
Jambi, Media MUT – Tren investasi pada saham berbasis Artificial Intelligence (AI) yang sempat memanas sepanjang tahun ini baru saja menerima “pukulan ganda”. Laporan mengecewakan dari dua raksasa teknologi, Oracle dan Broadcom, kembali memicu kekhawatiran pasar mengenai valuasi yang terlalu tinggi dan potensi gelembung (bubble) AI.
Kendati demikian, mayoritas investor senior di Wall Street menilai bahwa fundamental optimisme terhadap AI masih utuh. Mereka enggan menyebut ini sebagai akhir dari pesta teknologi.
Masalah di Tubuh Oracle dan Broadcom
Sentimen negatif pasar dipicu oleh penurunan tajam saham Oracle (ORCL). Saham perusahaan ini anjlok hingga 17% setelah manajemen memperingatkan adanya lonjakan belanja modal (Capex) yang signifikan.
Oracle memproyeksikan belanja modal untuk tahun fiskal 2026 akan membengkak $15 miliar (sekitar Rp238 triliun) lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Tekanan bertambah setelah Bloomberg melaporkan bahwa Oracle menunda penyelesaian beberapa pusat data (data center) untuk OpenAI, dari target 2027 mundur ke 2028.
Di sisi lain, saham Broadcom (AVGO) juga tergelincir lebih dari 11% pada hari Jumat. Penyebabnya adalah peringatan perusahaan bahwa margin keuntungan mereka tergerus akibat meningkatnya penjualan chip AI kustom (custom chips) yang memiliki margin laba lebih rendah dibanding produk lainnya.
Investor Mulai Selektif, Bukan Panik
Kejatuhan dua raksasa ini menyeret indeks teknologi Nasdaq turun 1,4%. Namun, para analis melihat ini sebagai tanda pendewasaan pasar, bukan kepanikan massal.
“Saya tetap berpikir perdagangan AI masih utuh,” ujar Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services. “Saya tidak melihat ini sebagai awal dari penurunan signifikan yang berkelanjutan.”
Senada dengan Carlson, Mark Hackett dari Nationwide menyebut bahwa investor kini menjadi lebih “pilih-pilih” (picky). Pasar tidak lagi sembarangan memberi hadiah kenaikan harga saham hanya karena perusahaan “membakar uang” untuk investasi AI tanpa peta jalan keuntungan yang jelas.
Bayang-Bayang “The Big Short”
Di tengah optimisme tersebut, peringatan keras datang dari Michael Burry, investor legendaris yang terkenal memprediksi krisis 2008 (kisahnya difilmkan dalam The Big Short).
Burry membandingkan booming AI saat ini dengan era dot-com bubble tahun 1990-an. Ia bahkan mengambil posisi short (taruhan harga turun) pada saham Palantir Technologies.
Meski begitu, data pasar menunjukkan bahwa para short seller (pelaku pasar yang bertaruh saham akan jatuh) masih ragu-ragu untuk melawan arus utama. Menurut data Ortex Technologies, taruhan bearish (pesimis) hanya meningkat pada perusahaan AI skala kecil, sementara raksasa seperti Nvidia masih relatif aman dari serangan short selling.
Kesimpulan
Pasar saham AI sedang memasuki fase baru: Seleksi Alam. Investor tidak lagi buta terhadap kata “AI”, melainkan mulai menuntut bukti profitabilitas dan efisiensi belanja modal. Guncangan pada Oracle dan Broadcom adalah peringatan bagi perusahaan teknologi lain untuk lebih disiplin dalam mengelola ekspektasi pasar.
(Redaksi Media MUT)












